Friendly Iron Education
Article Zat Besi

Kekurangan Zat Besi Pengaruhi Kecerdasan dan Perilaku Anak

Tahukah Bunda? Anemia defisiensi zat besi (ADB) ternyata tidak hanya mengakibatkan seseorang mengalami lemah, lesu, letih, namun juga menyebabkan gangguan fungsi kognitif pada anak.

Zat besi memiliki peran penting bagi tubuh, antara lain pada sintesa DNA, fungsi mitokondria, transportasi oksigen, serta melindungi sel dari kerusakan akibat oksidasi. Sebagian besar zat besi disimpan di otak dalam bentuk feritin, dan dibutuhkan dalam proses mielinisasi dan sintesa neurotransmiter serotonin, dopamin, epinefrin, dan norepinefrin.

Mielinisasi adalah proses pembentukan selubung saraf/mielin yang penting untuk menyempurnakan kerja otak. Mielin membantu hantaran impuls saraf dalam otak berjalan optimal. Sedangkan neurotransmitter berkaitan dengan fungsi kognitif dan dipengaruhi oleh kadar zat besi. Penurunan kadar zat besi akan menyebabkan kurangnya fungsi neurotransmitter yang dapat meningkatkan penurunan mielin dan menghambat maturasi (proses pematangan) saraf sehingga fungsi kognitif menurun.

Anemia defisiensi zat besi (ADB) terjadi pada saat anak berada dalam masa perkembangan otak yang cepat, yang akan berpotensi terjadi gangguan fungsi otak, karena zat besi merupakan mineral penting pada jaringan otak.

Anak yang mengalami ADB pada masa bayi memiliki risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan jangka panjang yang serius. Ia berisiko mengalami gangguan kognitif dan perilaku. Ketika usia sekolah, pengaruhnya makin jelas dengan adanya kesulitan belajar dan tidak terampil dalam memecahkan masalah.

Apa yang terjadi bila anak kekurangan zat besi?

1. Proses mielinisasi terganggu

Anak yang mengalami kekurangan zat besi saat usia 6 bulan menunjukkan gangguan kecepatan hantar saraf dari pendengaran karena kurang sempurnanya mielinisasi. Efek ini menetap hingga anak berusia 2-4 tahun walau sudah diobati. Mielinisasi saraf penglihatan berlanjut sampai anak berusia 2 tahun. Jika anak pernah mengalami kekurangan zat besi saat usia 3-5 tahun respon penglihatannya akan lebih lambat.

2. Pembentukan zat kimia penunjang kerja otak (neurotransmiter) terhambat

Sel saraf diatur oleh zat kimia yang disebut neurotransmiter dan kekurangan zat besi dapat menghambat produksinya. Zat besi berperan dalam pembentukan neurotransmiter dopamine, akibatnya anak yang kekurangan dopamine akan memperlihatkan perilaku hiperaktif.

3. Berkurangnya kemampuan belajar dan kecerdasan

Anak yang pernah mengalami kekurangan zat besi menunjukkan nilai motorik dan IQ lebih rendah pada usia 11-14 tahun. Kekurangan zat besi pada usia sekolah juga menyebabkan sulit konsentrasi dan gangguan kecerdasan terutama untuk pelajaran matematika.

Penelitian menunjukkan anak sekolah yang kadar hemoglobinnya kurang dari 11 g/dl (mengalami ADB), diobati selama tiga bulan, terjadi perbaikan kemampuan belajar namun tetap lebih rendah dibanding anak dengan hemoglobin normal.

Sinaptogenesis merupakan proses terbentuknya hubungan antar sel saraf, yang berjalan sejak bayi lahir. Sebagian besar selesai di usia 2-3 tahun dan sebagian berlanjut hingga remaja.

• Sinaptogenesis untuk fungsi penglihatan dan pendengaran: maksimal usia 3 bulan, selesai usia 5 tahun.
• Sinaptogenesis untuk fungsi bicara: maksimal usia 9 bulan dan selesai usia 5 tahun.
• Sinaptogenesis untuk fungsi kecerdasan terus berkembang hingga remaja.

Bunda, cukupi kebutuhan zat besi si kecil

Persediaan zat besi anak ditentukan sejak ibu hamil, karenanya penting menjaga asupan zat besi selama masa kehamilan, untuk menunjang pembentukan otak yang sudah dimulai sejak dalam kandungan.

Selain itu, untuk menjaga asupan zat besi bagi si kecil, pastikan makanan yang Bunda hidangkan di meja kaya akan zat besi, seperti daging merah, telur, ikan, hati sapi dan hati ayam, sayuran berwarna hijau, kacang-kacangan, buah kering (kismis, plum), sereal, dll. Bunda juga dapat memberikan Maltofer®, suplemen zat besi untuk defisiensi zat besi (Fe), yang dapat diberikan untuk anak-anak, remaja, dewasa, juga ibu hamil dan menyusui. Maltofer tersedia dalam bentuk sirup, tablet kunyah dan drops.

Referensi:

Related Article

Foto Preview Artikel Maltofer

Olahraga untuk Penderita Anemia Defisiensi Zat Besi

Olahraga adalah aktivitas yang baik dan perlu untuk dilakukan demi kesehatan tubuh. Bagi penderita anemia, pilihlah jenis olahraga yang dianjurkan serta ikuti aturannya agar tidak memperburuk kondisi Anda.

0

Foto Preview Artikel Maltofer

Kebutuhan Zat Besi bagi Lanjut Usia

Besi merupakan mineral penting yang terdapat pada sel darah merah. Peran sel darah merah adalah “sel pengangkut” oksigen tubuh Anda. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia, di mana kondisi tubuh Anda tidak memiliki cukup sel darah merah yang sehat. Gejala umum anemia paling sering ditemui adalah kelelahan. Zat besi banyak dikandung pada sumber protein hewani, ...

0

Foto Preview Artikel Maltofer

Pentingnya Zat Besi Pada Anak

Bila si kecil sering terlihat lesu, cermati kemungkinan ia mengalami defisiensi zat besi.

0