Detail

Gejala Anemia Pada Anak Yang Bisa Menghambat Proses Tumbuh Kembang

Sebagian anak-anak yang memiliki anemia tidak dapat menyadarinya karena mereka tidak bisa merasakan gejalanya(1). Padahal, anemia pada anak-anak merupakan kasus yang sering terjadi(2). Oleh karena itu, sebagai pendamping mereka, orangtua harus tetap waspada dan mampu mengenali ciri-ciri terkena anemia pada anak. Apa sajakah itu? Baca selengkapnya di sini.

Seberapa Rentan Anak Mengalami Anemia?

Anemia pada anak memang cukup sering terjadi(2). Misalnya saja, hasil Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2018 lalu menyebutkan bahwa setidaknya 1 dari 3 anak mengalami anemia(3).

Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Anak

Gejala anemia pada anak sebenarnya cukup banyak dan tidak berbeda jauh dengan gejala anemia pada umumnya. Jangan panik dulu, begini cara mengetahui apakah anak kurang zat besi atau tidak. Perhatikan beberapa tanda-tandanya seperti(4):

  1. Jantung berdebar-debar: Salah satu tugas sel darah merah adalah membawa oksigen ke seluruh tubuh, termasuk jantung. Nah, detak jantung yang tidak teratur disebabkan karena berkurangnya pasokan oksigen.
  2. Sesak napas: Sesak napas bisa terjadi akibat jumlah sel darah merah yang lebih kecil dari yang seharusnya. Kekurangan sel darah merah pada anak mengakibatkan jumlah oksigen ke paru-paru juga lebih sedikit.
  3. Mudah merasa lelah: Gejala anemia pada anak yang satu ini cukup sering terjadi dan mudah dideteksi. Anak yang kelihatan kurang energi bisa jadi sedang mengalami anemia.
  4. Sering pusing kepala: Pusing atau merasa seperti melayang, terutama saat berdiri, disebabkan karena aliran darah yang kurang lancar ke otak.
  5. Mudah tersinggung: Apakah belakangan anak menunjukkan gejala di atas dan juga jadi lebih sensitif? Hal ini merupakan salah satu gejala anemia pada anak.
  6. Haid tidak teratur: Menstruasi pertama kali umumnya dialami anak perempuan pada usia 10-16 tahun(5). Bila menstruasi pertama terlambat dan tidak kunjung datang setelah usia tersebut, hal ini juga bisa terjadi karena kurangnya nutrisi yang dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah.
  7. Lidah sakit atau bengkak: Lidah sakit atau sariawan pada anak juga bisa terjadi karena kekurangan nutrisi yang dibutuhkan dalam pembentukan sel darah merah.
  8. Warna kulit, mata, dan mulut: Kekurangan sel darah merah pada anak bisa berdampak pada warna kulit, mata dan mulutnya. Perhatikan apakah warna pada bagian tersebut lebih pucat atau kuning.
  9. Gangguan pertumbuhan: Perkembangan yang lambat sangat mungkin terjadi karena sel-sel tubuh kekurangan oksigen dan nutrisi yang diperlukan untuk membangun dan memperbaiki jaringan tubuh.
  10. Luka tidak cepat sembuh: Apabila luka membutuhkan waktu lama untuk menutup atau sembuh, biasanya disebabkan oleh kurangnya oksigen dan nutrisi pada sel-sel yang bertanggung jawab dalam proses regenerasi jaringan.

Gejala Anemia Yang Menghambat Tumbuh Kembang Anak

Apa saja yang terjadi jika anak mengalami anemia? Berikut ini daftar dampak anak yang mengalami anemia, sehingga akan menghambat tumbuh kembangnya.

  1. Stunting pada anak: adalah kondisi kronis di mana anak kekurangan nutrisi selama masa pertumbuhannya. Imbasnya adalah berat badan yang di bawah normal. Apalagi, stunting ternyata berdampak pada kemampuan otak anak. Anak yang tidak mengalami stunting memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik (6).
  2. Tinggi badan di bawah rata-rata: Apabila anak lebih pendek dari anak-anak seusianya, kemungkinan Ia juga mengalami kekurangan nutrisi seperti zat besi dan anemia. Risiko ini mengintai sejak usia balita pada anak-anak di Indonesia(6). Oleh karena itu, disarankan Moms agar rajin mencatat tinggi, berat badan, lingkar kepala dan lingkar lengan per 3 bulan untuk melihat grafik pertumbuhan anak.
  3. Keterlambatan kognitif: Pada pertumbuhan otak maupun tubuh, terutama pada fase pertumbuhan anak-anak yang berlangsung sangat cepat, mereka akan membutuhkan suplai energi dan metabolisme tinggi yang bergantung pada oksigen dan sel darah merah(7).
  4. Sulit berkonsentrasi: Si Kecil yang terkena anemia bisa dilihat dari apakah Ia memiliki attention span (rentang perhatian si Kecil dalam berkonsentrasi) yang baik atau tidak. Jika daya konsentrasinya seringkali kurang saat belajar, maka ini merupakan salah satu tanda gejala anemia pada anak(8).
  5. Respon lambat dan IQ rendah: Balita dan anak yang sudah terkena anemia bisa dibuktikan dengan performanya di bidang motorik. Anak usia 5 - 16 tahun yang terkena anemia akan menunjukkan skor IQ yang lebih rendah, respon yang lebih lambat dan kesulitan untuk menyelesaikan tugas dari sekolah(8).
  6. Kesulitan berkomunikasi: Efek anemia pada anak tidak hanya sampai di situ. Anak yang mengalami anemia juga lebih sulit untuk berkomunikasi dengan lawan bicaranya, terutama apabila lingkungan di sekitarnya tidak mendukung atau kekurangan stimulasi sosial(8).
  7. Gangguan perilaku: Penelitian yang dilakukan pada balita dan anak menunjukkan bahwa masalah perilaku sudah terlihat sejak usia dini. Mereka yang memiliki gejala anemia dinilai lebih penakut, lebih berisik, cenderung mudah tegang dan menarik diri(8).
  8. Mood yang tidak baik: Unhappy and moody, begitu kira-kira deskripsi yang tepat untuk anak-anak yang terdeteksi memiliki anemia. Kalau anak sering ‘mengambek’ atau marah-marah, bisa jadi itu merupakan ciri-ciri anemia yang perlu diwaspadai(8).

Penanganan Gejala Anemia Defisiensi Besi pada Anak

Penelitian menyebutkan bahwa anak yang terdeteksi anemia dan diberikan suplemen zat besi dapat kembali seperti semula. Moms bisa memberikan suplemen zat besi dalam bentukan syrup yang disukai anak dengan dosis sebagai berikut(9):

Anak 1 - 12 tahun

  • Anemia defisiensi besi 5 - 10 mL per hari (50-100 mg zat besi),
  • Kekurangan Zat Besi 2,5 - 5 mL per hari (25-50 mg zat besi).

Anak >12 tahun:

  • Anemia defisiensi besi 10 - 30 mL per hari (100 - 300 mg zat besi),
  • Kekurangan Zat Besi 5 - 10 mL per hari (50 - 100 mg zat besi).

Itulah beberapa gejala anemia pada anak yang bisa kita deteksi. Jika Si Kecil mengalami anemia, jangan khawatir ya Moms. Tetap berikan support yang terbaik dengan mengenali gejalanya dan lakukan tindakan untuk mengatasi ciri-ciri terkena anemia agar kondisi ini tidak berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Semoga lekas membaik!

Artikel ini ditinjau oleh:
Team Medical Combiphar

Referensi:

  1. Robin E. Miller. 2019. What’s Anemia? Kids Health. https://kidshealth.org/en/kids/anemia.html.
  2. Jay Greenberg. Pediatric Anemia (Iron Deficiency). Children National. https://childrensnational.org/visit/conditions-and-treatments/blood-marrow/anemia-irondeficiency.
  3. Kementerian Kesehatan RI. 2022. Anemia Defisiensi Zat Besi Pada Anak. Kementerian Kesehatan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/182/anemia-defisiensi-besi-pada-anak.
  4. Cedars Sinai Team. Anemia in Children. Cedars Sinai. https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions---pediatrics/a/anemia-in-children.html.
  5. Lacroix AE, Gondal H, Shumway KR, et al. 2022. Physiology, Menarche. NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470216/#:~:text=Menarche%20is%20defined%20as%20the,of%20onset%20being%2012.4%20years.
  6. Safitri Tia Tampy. 2020. The Associations between Anemia, Stunting, Low Birthweight, and Cognitive Ability in Indonesian Children: An Analysis from Indonesian Family Life Survey. Journal of Maternal and Child Health. https://thejmch.com/index.php?journal=thejmch&page=article&op=view&path%5B%5D=451.
  7. Ashraf T. Soliman, Vincenzo De Sanctis, and Sanjay Kalra. 2014. Anemia and Growth. NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4266864/.
  8. Catherine Nokes, Claire Van Den Bosch, and Donald A.P. Bundy. 2012. The Effects of Iron Deficiency and Anemia on Mental and Motor Performance, Educational Achievement, and Behavior in Children: An Annotated Bibliography. USAID. https://pdf.usaid.gov/pdf_docs/PNACC764.pdf.
  9. Combiphar Team. Maltofer Sirup. Combiphar. https://combiphar.com/id/product/maltoferr-sirup.
Share Pemenuhan Kebutuhan Zat Besi