Friendly Iron Education

Article Zat Besi

Penyebab dan Gejala Kekurangan Zat Besi

Kekurangan zat besi dapat terjadi pada siapa saja. Saat kondisi ini terjadi, tubuh dapat mengalami anemia defisiensi zat besi yang menyebabkan berbagai gejala yang khas.

Zat besi (Fe) adalah mineral yang dibutuhkan oleh tubuh untuk membentuk hemoglobin di dalam sel darah merah. Hemoglobin (Hb) adalah sejenis protein yang berfungsi mengikat oksigen dan menyebarkannya ke seluruh tubuh. Sehingga saat seseorang mengalami kekurangan zat besi, maka distribusi oksigen ke seluruh tubuhnya juga akan terganggu. Efeknya, metabolisme tubuh pun tak akan berjalan dengan lancar. Kondisi ini disebut sebagai anemia defisiensi besi.

Penyebab terjadinya anemia

Apa saja penyebab terjadinya anemia ?

• Kurangnya asupan zat besi

Kita tak dapat membuat sendiri zat besi di dalam tubuh. Satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan zat besi adalah dengan suplementasi maupun asupan dari makanan yang kaya akan zat besi. Kita membutuhkan asupan harian zat besi dengan takaran tertentu, tergantung pada usia dan jenis kelamin.

- Anak-anak: 8 mg (1-3 tahun), 9 mg (4-6 tahun); 10 mg (7-9 tahun)
- Perempuan dewasa: 20-25 mg (>18 tahun)
- Ibu hamil: 20-38 mg (tergantung usia kehamilan)
- Laki-laki dewasa: 13 mg (>18 tahun)

Konsumsilah makanan yang mengandung banyak zat besi, seperti: daging merah, daging ayam, sayuran hijau seperti bayam dan kangkung, makanan laut, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Jangan lupa untuk mengonsumsi vitamin C berbarengan dengan makanan ini, karena vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi di dalam tubuh.

• Kehilangan banyak darah

Mereka yang menjalani operasi, mengalami pendarahan karena penyakit atau baru mengalami kecelakaan hebat dapat mengalami kondisi anemia. Namun perempuan memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk mengalami kekurangan darah karena menstruasi atau melahirkan.

Menurut CDC (Center for Disease Control and Prevention), menstruasi yang normal berlangsung 4 hingga 5 hari dengan darah yang hilang kurang lebih seukuran kira-kira 2-3 sendok makan. Jika menstruasi yang dialami lebih banyak dan lebih lama dari itu, kemungkinan Anda mengalami anemia akan lebih besar.

Penyebab utama kekurangan darah harus diatasi terlebih dahulu, misalnya untuk pasien yang baru mengalami kecelakaan atau menjalani operasi, jika mereka kehilangan darah yang cukup banyak maka untuk mengatasinya diberikan transfusi darah. Begitu juga dengan ibu yang baru melahirkan, sekiranya dalam proses tersebut ia mengalami kekurangan darah dalam jumlah besar.

Sedangkan kekurangan darah dalam jumlah sedang, seperti pada perempuan yang mengalami menstruasi berlebih, biasanya dokter akan memberikan suplemen zat besi.

• Meningkatnya kebutuhan darah dalam tubuh


Saat hamil, ibu mengalami peningkatan volume darah dan sel darah merah dalam tubuh secara drastis. Hal ini dibutuhkan untuk mendukung perkembangan janin di dalam kandungan. Oleh karenanya, kebutuhan ibu hamil akan zat besi pun ikut meningkat.

Kekurangan zat besi pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur atau BBLR (berat badan lahir rendah), mengganggu perkembangan kognitif dan perilaku bayi setelah lahir, juga membuat ibu mudah mengalami infeksi karena kekurangan zat besi juga dapat menurunkan imunitas tubuh.

• Tubuh tak mampu menyerap zat besi dengan baik

Makanan yang mengandung zat besi masuk ke dalam tubuh akan diproses serta diserap oleh dinding-dinding usus. Namun jika kita mengalami kondisi pencernaan yang terganggu, hal ini dapat menghambat penyerapan zat besi di dalam tubuh. Contohnya pada penderita penyakit celiac, penyakit ini membuat usus tak dapat mencerna nutrisi dari makanan yang dikonsumsi. Untuk itu dibutuhkan cara lain untuk meningkatkan zat besi di dalam darah.

Gejala kekurangan zat besi

Jika kita memiliki kondisi kekurangan zat besi, ada beberapa gejala yang akan muncul, yaitu:

• Sering merasa lelah dan lemah
• Warna kulit pucat atau kekuningan
• Sering merasa kehabisan napas (terengah-engah)
• Pusing/ sakit kepala
• Detak jantung yang lebih cepat
• Sakit di bagian dada
• Tangan dan kaki terasa dingin
• Kuku yang rapuh dan rambut rontok dalam jumlah lebih dari biasa
• Keinginan untuk makan tepung, tanah, tanah liat, atau es (pica)
• Lidah bengkak dan terasa sakit
• Kaki sering bergerak-gerak saat tertidur (restless legs syndrome)

Suplementasi zat besi

Banyak orang mengalami defisiensi zat besi karena tidak mendapatkan zat besi yang cukup dari asupan makanan yang dikonsumsi sehingga butuh suplementasi zat besi. Oleh karena itu, pastikan tersedia Maltofer® di rumah. Maltofer® adalah suplemen zat besi untuk mencukupi kebutuhan zat besi, yang dapat diberikan untuk anak-anak, remaja, dewasa, juga ibu hamil dan menyusui. Maltofer tersedia dalam bentuk sirup, tablet kunyah dan drops.

Maltofer® mengandung senyawa IPC (Iron Polymaltosa Complex) yang diserap secara aktif dan terkontrol sehingga tubuh hanya menyerap zat besi sesuai kebutuhan masing-masing orang. Efek samping yang biasanya muncul akibat kelebihan zat besi seperti sembelit atau mual jarang terjadi dan minimal, Maltofer® dapat dikonsumsi bersamaan dengan makanan dan minuman lainnya seperti teh atau susu.

Referensi:

Related Article

Foto Preview Artikel Maltofer

Bahaya Anemia Saat Menstruasi pada Remaja Putri

Jika kamu seorang remaja putri, kamu membutuhkan zat besi yang cukup besar.

0

Foto Preview Artikel Maltofer

Efek Buruk Kelebihan Zat Besi dalam Tubuh

Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan kondisi anemia pada tubuh kita.

0

Foto Preview Artikel Maltofer

Kekurangan Zat Besi Pengaruhi Kecerdasan dan Perilaku Anak

Anemia defisiensi zat besi (ADB) dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif pada anak.

0