Friendly Iron Education

Article Zat Besi

Pentingnya Zat Besi Bagi Wanita Aktif
dan Ibu Hamil

Defisiensi zat besi dapat mengakibatkan kondisi kesehatan yang buruk, terutama pada ibu hamil.

Sel-sel dalam tubuh kita dapat berfungsi dengan baik jika pasokan oksigen di dalamnya terpenuhi dengan baik. Jika tidak, tentu saja akan terjadi banyak gangguan kesehatan seperti kelelahan, kurang konsentrasi, menurunnya fungsi imunitas hingga mengganggu kerja otak. Lalu, apa hubungannya kondisi ini dengan zat besi?

Bagian penting dari distribusi oksigen

Ya, zat besi adalah mineral penting pada hemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah, yang berfungsi sebagai transport/mengantarkan oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Manusia membutuhkan suplementasi zat besi melalui makanan yang dikonsumsi. Namun, wanita, terutama ibu hamil, membutuhkan zat besi dalam jumlah yang lebih banyak dari pria.

Kondisi defisiensi zat besi umum ditemukan di dunia dan harus menjadi perhatian kita bersama. Kondisi ini dapat mengakibatkan terjadinya anemia defisiensi besi. Menurut data WHO, secara global lebih dari 1,62 milyar penduduk dunia atau sekitar 24,8% dari populasi dunia mengalami anemia defisiensi zat besi. Bahkan sekitar 41,8% dari ibu hamil diketahui mengalami anemia defisiensi besi. Anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil tidak hanya membahayakan dirinya, tapi juga bayi dalam kandungannya.

Kebutuhan akan zat besi

Setiap orang membutuhkan zat besi. Tentu saja kebutuhan setiap orang berbeda-beda tergantung usia, jenis kelamin, juga kondisi kesehatannya. Tubuh mendapatkan zat besi dari makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Kelebihan zat besi ini memang akan disimpan di dalam organ-organ tubuh, namun jika tidak didukung dengan suplementasi zat besi yang memadai, tubuh pun dapat mengalami defisiensi zat besi.

Secara garis besarnya, angka kecukupan zat besi harian yang dianjurkan untuk orang di Indonesia dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok berikut:

Usia Jenis Kelamin Kebutuhan Zat Besi
7-11 bulan pria/wanita 7 mg/hari
1-9 tahun pria/wanita 8-10 mg/hari
10-12 tahun wanita 20 mg/hari
10-12 tahun pria 13 mg/hari
13-49 tahun wanita 26 mg/hari
13-15 tahun pria 19 mg/hari
16-18 tahun pria 15 mg/hari
>19 tahun pria 13 mg/hari
Ibu hamil wanita 26-49 mg/hari
Ibu menyusui wanita 32-34 mg/hari
>50 tahun wanita 12 mg/hari

Defisiensi zat besi

Defisiensi zat besi dalam jangka pendek dapat menyebabkan tubuh harus mengambil cadangan zat besi yang berasal dari organ tubuh, seperti hati, limpa atau sumsum tulang belakang. Dan jika tidak segera diobati, maka dapat menyebabkan anemia sebagai akibat dari defisiensi zat besi jangka panjang. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 terdapat angka persentase penderita anemia sebesar 21,7% dari jumlah penduduk Indonesia, dan 37,1% diantaranya adalah ibu hamil.

Beberapa gejala yang menandakan seseorang mengalami defisiensi zat besi, antara lain:

• Napas pendek
• Detak jantung cepat
• Tangan dan kaki terasa dingin
• Keinginan untuk mengunyah hal aneh seperti tanah
• Kuku rapuh dan rambut rontok
• Lidah nyeri
• Kekurangan zat besi yang parah dapat menyebabkan kesulitan menelan

Defisiensi zat besi pada ibu hamil

Ketika sedang hamil, wanita membutuhkan zat besi dua kali lebih banyak dari sebelumnya, karena tubuh menggunakan zat besi untuk menghasilkan lebih banyak hemoglobin dalam sel darah merah untuk kebutuhan ibu dan janin.

Kondisi anemia pada ibu hamil penting untuk dihindari karena dapat meningkatkan risiko:

• Kelahiran prematur atau bayi dengan BBLR (berat badan lahir rendah)
• Pendarahan serius saat melahirkan hingga membutuhkan transfusi darah
• Depresi pasca melahirkan
• Bayi yang anemik
• Anak dengan keterlambatan perkembangan (developmental delay)

Makanan sumber zat besi

Untuk menghindari kondisi anemia tersebut, sebaiknya kita mengonsumsi makanan yang mengandung zat besi secara teratur.

Berikut adalah bahan makanan dengan kandungan zat besi tinggi:

• Daging merah tanpa lemak, daging ungas dan ikan
• Sayur-sayuran berwarna gelap seperti bayam, brokoli dan kale
• Serealia yang telah diperkaya dengan zat besi
• Kacang-kacangan, lentil dan tahu
• Biji-bijian
• Telur

Penyerapan zat besi yang diperoleh dari makanan sangatlah rendah, sekitar 15%-35%. Zat besi yang diserap melalui makanan yang berasal dari hewani (daging-dagingan) dan 2%-7% melalui makanan yang berasal dari sayur-sayuran.

Hindari mengonsumsi teh, kopi, susu, dan produk susu lainnya bersamaan dengan makanan yang mengandung zat besi tinggi, tetapi konsumsilah makanan/minuman yang mengandung vitamin C seperti buah-buahan untuk membantu penyerapan zat besi dalam tubuh.

Jika kondisi ibu dinyatakan anemik, dokter akan merekomendasikan vitamin kehamilan atau suplemen zat besi. Maltofer adalah salah satu suplemen zat besi yang diserap oleh tubuh dengan cara aktif dan terkontrol. Maltofer dapat membantu kecukupan zat besi dengan kejadian efek samping seperti mual, begah (bloating), sembelit atau diare yang minimal dibandingkan dengan suplemen zat besi lainnya.

Mari kita hindari kondisi anemik pada wanita, juga ibu hamil!

Referensi:

Related Article

Foto Preview Artikel Maltofer

Efek Buruk Kelebihan Zat Besi dalam Tubuh

Kekurangan zat besi dapat mengakibatkan kondisi anemia pada tubuh kita.

0

Foto Preview Artikel Maltofer

Kekurangan Zat Besi Pengaruhi Kecerdasan dan Perilaku Anak

Anemia defisiensi zat besi (ADB) dapat menyebabkan gangguan fungsi kognitif pada anak.

0

Foto Preview Artikel Maltofer

Pentingnya Zat Besi pada Anak

Bila si kecil sering terlihat lesu, cermati kemungkinan ia mengalami defisiensi zat besi.

0