Apa Saja Gejala Anemia Defisiensi Besi

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, prevalensi anemia defisiensi besi secara global diperkirakan sekitar 24.8%, dengan prevalensi paling tinggi dialami oleh anak-anak pra-sekolah yaitu sekitar 47.4%, 41.8% pada wanita hamil, dan 30.2% pada wanita tidak hamil.

Anemia defisiensi besi terjadi karena kurangnya hemoglobin pada sel darah merah yang membantu mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Jika tidak ditangani segera, kondisi anemia ini dapat sangat membahayakan kesehatan, terutama para perempuan yang lebih rentan mengalami anemia dibandingkan laki-laki.

Gejala anemia defisiensi besi

Kelelahan dapat menjadi salah satu tanda/gejala yang dirasakan oleh mereka yang mengalami anemia defisiensi besi. Namun, kelelahan juga dapat timbul karena pola hidup atau stress sehari-hari termasuk kondisi kurang tidur, aktifitas berlebihan atau terserang flu, dll. Kelelahan seperti itu akan hilang dengan istirahat cukup dan melakukan aktifitas sesuai kemampuan. Sementara, kelelahan yang dirasakan oleh penderita anemia defisiensi zat besi biasanya disertai dengan rasa lemas, sulit berkonsentrasi, cenderung emosional, dan tidak mudah hilang hanya dengan istirahat.

Selain kelelahan, ada beberapa gejala lain yang dialami oleh seseorang dengan anemia defisiensi besi, yaitu:

1. Terlihat pucat

Pada penderita anemia defisiensi zat besi, sel darah merah yang dihasilkan di dalam tubuh berukuran lebih kecil dari normal dan berwarna pucat karena kurangnya hemoglobin. Itu sebabnya penderita anemia defisiensi zat besi terlihat memiliki kulit yang pucat, terutama di kelopak mata bagian dalam, juga bibir dan gusinya.

2. Nafas menjadi lebih pendek sampai terasa sesak

Berkurangnya zat besi menyebabkan berkurangnya pembentukan sel darah merah serta hemoglobin yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, sehingga tingkat oksigen menjadi rendah di dalam tubuh. Hal ini menyebabkan tubuh mencoba untuk mencari oksigen sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan pendek sampai kadang penderita merasa sesak napas. Bahkan aktivitas yang biasanya dilakukan dengan mudah, dapat tiba-tiba membuat dirinya sesak napas.

3. Lidah bengkak, nyeri, dan sudut mulut pecah-pecah serta mulut terasa kering

Selain menyebabkan penurunan hemoglobin, kekurangan zat besi juga dapat menyebabkan penurunan myoglobin. Myoglobin adalah protein di dalam sel darah merah yang membantu fungsi otot, salah satunya otot yang pada lidah. Sehingga, kadar hemoglobin dan myoglobin yang rendah dapat menyebabkan lidah membengkak, nyeri dan terlihat pucat, mulut terasa kering dan pecah-pecah pada sudut mulut.

4. Tangan dan kaki terasa dingin

Kurangnya zat besi dalam darah membuat sirkulasi oksigen dalam darah pun terganggu. Dampaknya, anggota tubuh yang terletak jauh dari jantung akan mendapat pembagian oksigen paling sedikit dibandingkan bagian tubuh yang lebih dekat. Hal ini mengakibatkan tangan dan kaki penderita kekurangan zat besi mudah terasa dingin.

5. Rambut rontok Rambut rontok merupakan salah satu tanda kekurangan zat besi yang sudah mengarah kepada anemia.

Hal ini disebabkan folikel (sel-sel) rambut tidak memperoleh oksigen yang cukup. Pasokan oksigen lebih diutamakan untuk organ-organ vital yang dianggap lebih penting. Kita perlu berhati-hati apabila rambut rontok melebihi 100 helai per hari dan tidak cepat tumbuh kembali.

6. Kuku rapuh dan berbentuk seperti sendok (cekung kedalam)

Kondisi ini biasanya terjadi pada penderita kekurangan zat besi yang sudah mengalami anemia defisiensi besi dengan derajat yang cukup parah. Kuku menjadi rapuh dan mudah patah terutama kuku pada tangan. Selain itu, kadang juga muncul kondisi lain berupa kuku tangan menyerupai sendok (di bagian tengah cekung, di bagian pinggir naik), kondisi kuku rapuh dan berbentuk sendok ini biasa disebut dengan koilonychia

Pentingnya asupan zat besi

Jika Anda merasa mengalami tanda/gejala tersebut, segera datanglah ke dokter untuk memeriksakan diri. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter umumnya akan meresepkan suplemen zat besi untuk ‘mengoreksi’ kadar zat besi di dalam darah. Selain itu juga tentunya merekomendasikan untuk mengonsumsi makanan yang tinggi zat besi dalam diet sehari-hari.

Salah satu suplemen zat besi yang direkomendasikan adalah Maltofer® yang dapat diberikan untuk anak-anak, remaja, dewasa, juga ibu hamil dan menyusui. Maltofer® tersedia dalam bentuk sirup, tablet kunyah dan drops. Maltofer® pun dapat dikonsumsi berbarengan dengan makanan dan minuman lainnya seperti teh atau susu. Oleh karena itu, pastikan Maltofer® tersedia di rumah

Referensi: